Home / Bisnis / 7 Masalah Fatal Procurement Manual yang Menggerus Profit Perusahaan

7 Masalah Fatal Procurement Manual yang Menggerus Profit Perusahaan

7 Masalah Fatal Procurement Manual

7 Masalah Fatal Procurement Manual yang Diam-Diam Menggerus Profit Perusahaan

Dalam banyak perusahaan, procurement masih dipahami sebatas aktivitas membeli barang. Selama barang datang dan operasional jalan, proses dianggap aman. Padahal di balik proses procurement manual atau semi-manual, sering terjadi kebocoran biaya yang tidak terlihat langsung di laporan keuangan.

Masalahnya bukan hanya soal lambat atau ribet. Procurement manual adalah salah satu sumber utama hilangnya kontrol, transparansi, dan perlindungan nilai bisnis. Berikut adalah 7 masalah fatal procurement manual yang paling sering terjadi dan perlahan menggerus profit perusahaan.

1. Pembelian Tanpa Kontrol Kebutuhan yang Jelas

Pada procurement manual, Purchase Request (PR) sering dibuat hanya berdasarkan urgensi subjektif:

  • “Takut kehabisan stok”
  • “Permintaan mendadak dari user”
  • “Sudah biasa beli”

Tanpa sistem yang memaksa validasi kebutuhan, procurement berubah menjadi reaksi, bukan keputusan bisnis.

Dampaknya:

  • Pembelian tidak berbasis kebutuhan nyata
  • Budget habis untuk item yang tidak memberi nilai
  • Tidak ada korelasi antara pembelian dan tujuan bisnis

Ini adalah awal dari pemborosan yang sering tidak disadari karena terlihat “operasional”. Di sinilah konsep “control before payment” menjadi penting. Procurement seharusnya mengunci kebutuhan dan approval sebelum komitmen ke supplier terjadi

2. Harga Supplier Tidak Konsisten dan Sulit Dibuktikan

Masalah procurement manual berikutnya adalah harga beli yang tidak konsisten:

  • Supplier sama, harga berbeda
  • Tidak ada histori harga terpusat
  • Negosiasi bergantung pada ingatan atau file terpisah

Dalam kondisi ini, perusahaan tidak tahu apakah harga yang dibayar hari ini lebih baik atau justru lebih mahal dari sebelumnya.

Dampaknya:

  • Potensi overprice terus berulang
  • Tidak ada dasar evaluasi supplier
  • Procurement berbasis kebiasaan, bukan data

3. Purchase Order Tidak Mengikat Secara Kuat

Pada sistem manual, PO sering hanya jadi formalitas:

  • Harga masih bisa berubah
  • Termin pembayaran tidak konsisten
  • Revisi PO tidak tercatat rapi
  • Akibatnya, PO gagal berfungsi sebagai alat governance.

Dampaknya:

  • Komitmen harga tidak terlindungi
  • Risiko perubahan sepihak dari supplier
  • Sulit menelusuri histori keputusan saat terjadi dispute

4. Barang Datang Tanpa Validasi Kualitas dan Kuantitas

Salah satu masalah procurement yang paling sering dianggap sepele adalah penerimaan barang. Pada banyak perusahaan:

  • Barang langsung masuk stok
  • QC dilakukan sekilas
  • Selisih kuantitas dianggap wajar

Padahal, di sinilah nilai barang pertama kali seharusnya divalidasi.

Dampaknya:

  • Stok tidak akurat
  • Inventory value menjadi bias
  • Risiko konflik dengan supplier di kemudian hari

Kesalahan kecil di tahap ini bisa berdampak panjang ke operasional dan laporan keuangan.

Baca juga : 6 Modul SCM Dasar yang Wajib Dimiliki Perusahaan Distribusi

5. Invoice Dibayar Tanpa Matching yang Ketat

Dalam procurement manual, invoice sering diproses dengan tekanan waktu:

  • Dikejar jatuh tempo
  • Finance hanya cocokkan nominal besar
  • Selisih kecil sering diabaikan

Tanpa proses PO – Goods Receipt – Invoice matching, perusahaan membuka pintu untuk kesalahan bayar.

Dampaknya:

  • Overbilling tidak terdeteksi
  • Kesalahan bayar berulang
  • Kebocoran kas yang tidak pernah benar-benar tercatat sebagai “kerugian”

6. Finance Baru Menyadari Dampaknya Setelah Uang Keluar

Masalah klasik procurement manual adalah keterlambatan informasi keuangan. Finance sering baru tahu setelah transaksi selesai:

  • Beban pembelian
  • Dampak ke cashflow
  • Tekanan margin

Dampaknya:

  • Tidak ada early warning overspend
  • Cashflow terasa “tiba-tiba ketat”
  • Keputusan keuangan selalu bersifat reaktif

Padahal procurement seharusnya memberi kontrol sebelum pembayaran, bukan sekadar laporan setelahnya

7. Tidak Ada Jejak Audit dan Data untuk Evaluasi

Procurement manual sangat bergantung pada:

  • Orang tertentu
  • File terpisah
  • Ingatan tim

Ketika terjadi audit atau evaluasi:

  • Sulit menelusuri alasan pembelian
  • Approval tidak terdokumentasi rapi
  • Data tersebar di banyak tempat

Dampaknya:

  • Risiko compliance
  • Sulit scaling bisnis
  • Procurement menjadi bottleneck, bukan enabler

Kenapa Masalah Procurement Manual Sulit Terdeteksi?

Karena dampaknya tidak langsung terlihat:

  • Tidak ada satu transaksi yang “salah besar”
  • Kebocoran terjadi sedikit demi sedikit
  • Dianggap sebagai biaya operasional normal

Padahal jika dikumpulkan, efeknya bisa:

  • Menekan margin
  • Mengganggu cashflow
  • Menurunkan kepercayaan manajemen terhadap data

Procurement Seharusnya Menjadi Sistem Proteksi Nilai

Procurement modern tidak lagi soal membeli lebih cepat, tapi:

  • mengontrol sejak awal
  • mengunci harga dan komitmen
  • melindungi finance dari salah bayar
  • memberi data untuk keputusan bisnis

Itulah sebabnya banyak perusahaan mulai memandang procurement sebagai sistem kontrol nilai, bukan sekadar fungsi operasional

Jika procurement masih manual, pertanyaannya bukan apakah ada kebocoran, tapi seberapa besar dan sejak kapan. Tujuh masalah di atas adalah pola yang berulang di banyak perusahaan dan menjadi alasan kenapa profit terasa sulit tumbuh meski penjualan naik. Mengubah procurement bukan soal teknologi semata, tapi cara perusahaan berpikir, mengontrol, dan melindungi uangnya.

Dengan pendekatan sistematis seperti INDOGO, Procurement perusahaan dapat:

  • Mengubah pembelian menjadi keputusan strategis
  • Mengaktifkan kontrol sebelum uang keluar
  • Menghubungkan procurement dengan proteksi nilai bisnis

Karena pada akhirnya, procurement yang sehat bukan hanya membuat proses lebih cepat — tetapi membuat perusahaan lebih aman dan lebih siap bertumbuh.

Jadwalkan sesi free demo & konsultasi kebutuhan Procurement melalui WhatsApp: 0896 2600 5000 atau bit.ly/HaloLeminho